Hingga Aku Merasa Ditertawakan Semesta

Sumber: google.com

Terkadang kesepianmu adalah celah kesempatan bagiku untuk sedikit mengetuk. Bahkan sepenuhnya aku sadar bahwa aku hanya dijadikan bahan penyejuk.

Aku sempat bingung, ada apa denganku. Mungkin aku terlalu gila hingga merasa dibunuh oleh waktu. Terlalu banyak puisi yang kutuliskan demi meyakinkan. Terlalu banyak aku mengajarkan beberapa bahasa perasaan, tapi tak mendapat perhatian.

Asal kamu tau, sesungguhnya aku sudah tak sanggup mengejar hati yang telah tertutup.

Pedih.

Ingin berhenti.

Tapi masih mencintai, hingga rela disakiti.

Dan kini aku terlalu tenggelam, hingga aku lupa pulang ke daratan.

Aku tau aku bodoh, hingga kamu tak ada sedikitpun memiliki rasa peduli. Harusnya aku sadar cinta yang lama tak terbalas seharusnya sudah benar-benar dilepas. Harusnya aku juga tak memaksa menjadikan hatimu yang beku itu utuh dihidupku. Ah, sudahlah. Tiada yang mengerti setulus apa perasaanku.

Mencoba bertahan adalah fase dimana semesta menertawakan. Keputusasaan itu ada. Bahkan mereka mengiang-ngiang hingga membuatku merasa kehilangan semua peluang.

Betapa lelahnya kehidupan, yang selalu diletakkan dibeberapa kebimbangan. Antara 1 pilihan dan 1000 keinginan, antara menjalani atau menyesali.


Aku yakin, Tuhan takkan selamanya membiarkanku jatuh. Entahlah, semoga nanti ada yang tulus merindu, meski bukan kamu.

No comments:

Post a Comment

Jogja (Lagi) Part 2 : Lemes, Cuma Bisa Nangis Ama Nyender di Loket Stasiun Setelah Ketinggalan Kereta

Assalamualaikum.. Hallo para readers kuuuu. Rindu? Pasti enggak kan wkwk Monmaap bangeeettt baru up dikarenakan kesibukan kuliah yang...