Sumber: youtube.com
Aku pernah merasakan cinta yang terbengkalai oleh jarak. Pada
saat itu, aku hanya bisa membayangkan kebahagiaan-kebahagiaan kecil layaknya
pasangan lain. Bergandengan tangan, membeli ice cream, duduk di taman berdua,
hingga saling memberikan sandaran dengan penuh kenyamanan.
Kita pernah saling merindu, kita pernah saling bertukar kabar
bahagia dan haru, kita pernah saling mengungkapkan kata-kata cinta dan doa-doa.
Tapi itu dulu, yang kabarmu selalu kudapat dari chat whatsaapp-mu.
Bertahun aku bertahan dengan rasa penasaran. Aku ingin tahu
perkembanganmu. Dulu, awal kita ketemu tinggi kita hampir sama, tapi saat ini
apakah aku setinggi bahumu? Ataukah kamu yang lebih pendek dari aku? Ah, semua
hanya jadi bayangan fatamorgana. Nyatanya aku tak tahu hal-hal yang sederhana
tentangmu. Mulai dari tinggi badanmu, rona wajahmu, lipatan-lipatan senyummu,
kegiatan apa yang sedang kau lakukan disana, hingga pertanyaan-pertanyaan
sederhana itu menjadi pertanyaan yang semakin menumpuk di dadaku dan
menimbulkan pertanyaan baru.
Saat ini, kita adalah manusia yang menuju fase dewasa. Semakin
dewasa, kita semakin tahu mana yang berkualitas, mana yang tak pantas. Mana yang
harusnya tinggal, mana yang harusnya tanggal. Dengan adanya keadaan yang
dipisahkan oleh jarak, kita saling menguatkan rasa kekhawatiran. Tapi aku tahu
kita berbeda. Aku dan duniaku, kamu dan duniamu.
Aku berusaha menampik pikiran negative, aku berusaha percaya
bahwa kamu bukanlah pria yang naïf. Aku yakinkan hatiku, bahwa pertanyaan yang
menumbuh tak akan merusak cinta yang kuanggap utuh.
Tapi, percaya pada semua kebaikan yang masih belum tentu
memungkinkan adalah hal yang tak baik. Mari, kita sama-sama sadar pada akhirnya
kita terjebak pada hal yang tak jelas. Karena sesungguhnya, yang jauh belum
tentu memiliki jaminan kebahagiaan.

No comments:
Post a Comment