Sumber: google.com
Ditempatkan dititik terberat dalam sebuah hubungan bisa
disebut pengalaman. Ya. Pengalaman pahit
ketika tenggelam bersama rasa sakit.
Perihal sakit hati tidak seharusnya selalu dikenang, tapi
terkadang hal itu melekat dalam angan. Menyesal selalu terletak diujung kisah. Tapi,
untuk mendapat penyesalan yang nyata harus melewati beberapa fase-fase.
Seperti, bertahan misalnya.
Sebagian wanita, berat membuka hati untuk seseorang yang
baru, bahkan mereka mendapatkan sebutan tangguh dan pandai dalam hal setia
walau dilukai pria. Tapi, aku adalah wanita yang berbeda. Aku bukanlah wanita
yang tangguh seperti halnya wanita lain. Hanya saja, aku wanita yang sanggup
setia pada satu pria. Meski terkadang dia membuatku kelepasan air mata.
Aku bahkan pernah ingin marah besar, ingin memberontak, ingin
berjalan mendekatinya lalu ku maki-maki dia. Tapi, jujur. Aku tak punya
kekuatan untuk membalas semua perbuatannya. Terkadang, amarahku yang terjebak
ditempat yang salah, membuatku begitu terlihat menyedihkan.
Aku terlalu tenggelam dalam mencinta.
Aku terlalu menggila.
Hingga akhirnya aku hanya bisa menahan semuanya.
Mereka diluar sana mengatakan bahwa aku terlihat baik-baik
saja, seolah aku sanggup mengatasi segalanya. Mereka mengatakan sekali lagi,
bahwa aku terlihat baik-baik saja, tapi aku merasa bahwa aku selalu ingin
menangis.
Mereka mengatakan kata berulang, tanpa tahu kenyataan.
Mereka menduga, bahwa aku bahagia karena aku selalu tersenyum.
Walaupun sesungguhnya hatiku masih kulabuhkan pada hati yang telah sirna.
I’m not okay, I’m not well.
Hatiku tak dapat membohongi perasaanku. Meski sekeras apapun
mencoba, itu terlalu sulit untuk menyelasaikan cinta yang rumit.
Sungguh, kali ini aku mengatakan hal yang benar-benar telah
usai. Asal kau tau, aku tak baik-baik saja. Aku tak bisa hanya tersenyum
menahan segalanya.

No comments:
Post a Comment