Aku sempat menghela nafas. Mencoba menenggelamkan emosi yang
hampir terlepas.
Masih teringat ceritanya, saat ibumu bertanya dia itu siapa?
Kau mengatakan bahwa dia temanku.
Menurut ceritanya, saat kau ucapkan namaku, kau menarik nafas
panjang. Kata itu yang selalu membuatku terngiang.
Hei temanku, hei kau.. tahukah bahwa aku cemburu? Mungkin
temanku tahu? atau pura-pura tak tahu? Entahlah. Apalagi kau, yang selalu
menjauhkan segalanya dari tentangku. Mana kau tahu hal yang benar-benar tak
penting bagimu.
Benar-benar. Aku tak suka caranya berbicara tentangmu
dihadapanku. Bukannya aku tak suka caranya, hanya saja aku khawatir lebih jauh
kehilanganmu.

No comments:
Post a Comment